China-ASEAN Free Trade Area: Peluang dalam Menghadapi Tantangan

Memang akan selalu ada kekhawatiran mengenai dampak perdagangan bebas terhadap pasar domestik. Begitu juga dengan China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA) yang telah diberlakukan per tanggal 1 januari 2010. Dengan adanya FTA tersebut, 90 persen produk China dan ASEAN akan menikmati tarif nol persen. Meski demikian, tidak semua produk dagang yang dihilangkan tarifnya. Setidaknya ada 228 pos tarif yang diusulkan oleh pemerintah agar tidak dihilangkan tarifnya karena dianggap belum siap berkompetisi dalam pasar bebas.

Apindo menengarai Indonesia belum siap menghadapi perdagangan bebas dengan Cina, sang raksasa manufaktur. Menurut Apindo, FTA akan membuat 7,5 juta pekerja industri manufaktur kehilangan pekerjaannya. Beberapa pengamat melihat CAFTA hanya akan merugikan Indonesia karena hanya akan membuat defisit perdagangan dengan Cina semakin membesar. Selain itu, CAFTA akan menghancurkan industri manufaktur lokal. Namun apakah penundaan FTA merupakan sebuah solusi permanen atau hanya penyelesaian jangka pendek dari permasalahan mendasar dari industri manufaktur kita.

Sebagai seorang konsultan manajemen, perdebatan mengenai CAFTA ini mengingatkan saya terhadap pepatah Cina yang mengatakan jika sebuah desa diserang oleh angin yang kencang, Desa tersebut memiliki dua pilhan; pertama mereka dapat membangun tembok yang tinggi untuk melindungi seluruh warga desa atau memilih untuk membangun kincir angin agar angin yang berhembus kencang dapat dimanfaatkan sebagai sarana menghimpun energi.

Pasar Bebas dan Kemakmuran

Kita harus mengakui bahwa perdagangan bebas telah menciptakan sebuah akselerasi dalam pertumbuhan ekonomi dunia. Dahulu, merkantilisme yang berkarakteristik proteksionisme mendorong terjadinya penjajahan Barat atas Asia dan Afrika. Tatkala pertama kali negara Barat memperkenalkan perdagangan bebas ke negara-negara Asia, banyak yang merespon dengan skeptisisme serta melihat hal ini tak lain adalah bentuk imperialisme gaya baru. Namun sejarah membuktikan negara-negara yang membuka perdagangan bebas telah bertransformasi menjadi macan-macan Asia yang sekarang malah sebaliknya membuat takut negara-negara Barat yang memperkenalkan pasar Bebas.

Banyak yang melihat bahwa pasar bebas hanya akan menguntungkan negara-negara maju. Ini merupakan mitos yang sudah semestinya ditinggalkan. Buktinya yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Perdagangan bebas merupakan momok yang menakutkan bagi negara-negara Maju. Uni Eropa terlihat telah kehilangan kepercayaannya terhadap pasar bebas. Perlahan Uni Eropa kembali melakukan proteksionisme untuk beberapa produk yang telah merugikan negara-negara berkembang sebesar USS 700 milyar. Bahkan pada tahun 2007, Nicholas Sarkozy mengatakan “the word protection is no longer taboo”. Pernyataan ini mengindikasikan kuatnya politik proteksionisme di Uni Eropa. Padahal, dalam sejarahnya, tidak ada proteksionisme yang memberikan dampak kemakmuran bagi masyarakat luas.

Pada tahun 2007, World Bank merilis sebuah laporan yang menyatakan bahwa eliminasi total terhadap hambatan dalam perdagangan akan mengangkat puluhan juta orang dari kemiskinan. Bagi negara-negara berkembang, liberalisasi perdagangan dapat menjadi powerful tool bagi penghilangan kemiskinan dalam masyarakat. Hal ini dapat dimengerti karena dengan dihilangkannya hambatan perdagangan, tentu akan membuat harga barang semakin murah sehingga purchasing power masyarakat semakin meningkat.  Tak ayal, perdagangan bebas merupakan salah satu instrumen dalam menciptakan kemakmuran.

Tentu pasar bebas bukannya tanpa masalah. Bagi Indonesia, area of concern dari dampak pasar bebas dengan Cina adalah industri manufaktur. Di sektor industri manufaktur, kita kekurangan capacity to manufacture. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya technology dan operational discipline, capital to support manufacturing yang lemah, dan dukungan pemerintah dalam hal penyediaan infrasturktur seperti listrik dan lain-lain yang masih setengah-setengah. Apalagi dengan masuknya produk Cina, industri manufaktur akan semakin menghadapi tantangan yang lebih berat lagi.

FTA dan Industri Manufaktur

Ide penangguhan FTA dengan Cina bukan merupakan solusi jangka panjang karena tarif masuk barang Cina pun sudah dibawah 5% dan tidak ada alasan lagi bagi pemerintah untuk menundanya karena cepat atau lambat perdagangan bebas sudah tentu akan kita hadapi. Tinimbang memikirkan ketidakmampuan kita dalam menghadapi CAFTA, alangkah baiknya bila kita mulai membangun strategi untuk menghadapi free trade Area.

Memang, dalam jangka waktu pendek, FTA akan memberikan beberapa dampak negatif terhadap manufacturing performance industri domestik kita. Namun, dalam jangka panjang hal ini dapat dikurangi dengan kesigapan pemerintah untuk terus melakukan monitoring yang lebih ketat lagi agar FTA  tidak menciptakan oligopoli produk impor di pasar domestik.

Alih-alih menolak pasar bebas, ketidakmampuan industri kita dalam menghadapi pasar bebas harus menjadi stimulus bagi kita untuk meningkatkan industri manufaktur kita agar menjadi industri yang besar. Kelembaman industri kita untuk menjadi industri besar merupakan dampak dari karakteristik industri kita yang tidak tahan banting.

Kita berharap free trade dapat menstimulus industri domestik untuk meningkatkan competitive capability melalui peningkatan capacity to be leader in competition, capacity of market dominance, dan capacity to formulate strategy. Penguatan value chain dalam industri manufaktur harus dilaksanakan mulai dari material resource sampai dengan marketing agar dapat memperkuat fundamental industri manufaktur. Dengan meningkatkan ketiga kapasitas ini dan diiringi dengan penguatan value chain, dapat dipastikan industri manufaktur akan dapat bersaing dalam free trade area.

Membangun Kincir Angin dan Tembok

Mungkin memang terlalu ekstrem bila kita harus memilih antara membangun tembok besar atau kincir angin dalam upaya kita menghadapi angin yang berhembus kencang. Selalu ada pilihan ketiga yang lebih kreatif dari dua pilihan sebelumnya. Menurut hemat saya, Kita dapat mengambil manfaat dari free trade area dan pada saat yang bersamaan tetap berupaya menjaga industri domestik kita. Paul Krugman pernah berujar trade often produces losers as well as winers. The accelerated pace of globlization means more losers as well as more winners. Adalah wajar dan sangat rasional bila para pekerja di sektor industri ketakutan akan hilangnya pekerjaan mereka karena adanya FTA dengan Cina.

Namun sudah seharusnya kita lebih banyak mendengar daripada meminta. Apa sebenarnya yang dibutuhkan pasar harus menjadi perhatian utama bagi kita. Pasar dalam hal ini bukan hanya produsen lokal tetapi juga konsumen. Free Trade tentu akan menciptakan sebuah pasar yang efektif sehingga dalam hal ini konsumen sangat diuntungkan. Begitu juga dengan produsen yang kreatif, perluasan pasar tentu akan menunggu dengan adanya free trade area. Meski demikian, guncangan yang dirasakan produsen lokal dari lingkungan eksternal yang berubah tentu tetap akan ada. Dampak negatif jangka pendek inilah yang harus diatasi oleh setiap aktor terutama pemerintah.

Pemerintah dapat membangun tembok yang melindungi industri manufaktur lokal dan pada saat yang bersamaan membangun kincir angin untuk mengambil keuntungan dari FTA. Membangun tembok bukan dengan melakukan kebijakan proteksionisme melainkan dengan membangun climate business yang lebih friendly terhadap industri domestik.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengatasi dampak negatif FTA; pertama memberdayakan tenaga kerja wanita di daerah-daerah untuk keperluan industri manufaktur. Di satu sisi, kebijakan ini akan meningkatkan produktivitas masyarakat dan di sisi lain akan meningkatkan produksi industri manufaktur itu sendiri. Kedua, sudah seharusnya industri besar melakukan investasi ke daerah pedesaan. Hal ini juga akan meningkatkan produktivitas masyarakat di pedesaan sehingga dapat meningkatkan daya beli masyarakat pedesaan. Ketiga, pemerintah dapat melakukan program bantuan langsung untuk industri-industri manufaktur yang masih membutuhkan bantuan. Tentu dengan skema jangka pendek agar mereka tidak terkena guncangan yang.

Secara lebih makro, Indonesia harus mampu melakukan ekstensifikasi terhadap produk-produk yang masih belum mampu bersaing dengan produk Cina dan pada saat yang bersamaan semakin fokus terhadap produk-produk unggulan yang memiliki comparative advantage terhadap produk Cina.

Dibandingkan dengan dampak negatifnya, perdagangan bebas lebih memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. peningkatan kemakmuran akan jauh lebih cepat bila Indonesia mengimplementasikan kebijakan perdangan bebas. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa akan ada dampak negatif dari kebijakan ini namun tidak berarti kita harus menarik diri dari liberalisasi perdagangan secara keseluruhan.  Kesemua proses ini harus dilakukan secara evolutif dan bertahap dengan berbagai macam rintangan di setiap tahapannya. Meski membutuhkan waktu, setidaknya kita sudah berada di jalur yang benar menuju kemakmuran.

Sekarang terserah pada kita dalam melihat implementasi CAFTA. Apakah CAFTA dapat saja kita anggap sebagai godam yang akan menghancurkan industri manufaktur lokal atau dapat dilihat sebagai sebuah kesempatan meningkatkan ekspor kita serta menciptakan pasar domestik yang lebih efektif. Pada akhirnya, kitalah yang menentukan apakah kita selamanya terjebak dalam kubangan pesimisme atau siap menghadapi tantangan dengan optimisme.

Tags: ,

Leave a Reply

Komentar Terbaru

  • replica ray bans: ATS report is roofed as i'm top-quality a definative consult...
  • gatewonea: can i get metformin over the counter ...
  • indesfrwge: Performance, amorti et protection maximale contre les chocsA...
  • udita goswami boobs: Тhis article is actuallʏ а pleasat one it assists new the...
  • Arianne: Hello to every one, the contents present at this web site ar...