Anggota Komisi XI
Dewan Perwakilan Rakyat - RI

Dilema Indonesia: Pilih Krisis Energi atau Krisis Pangan?

global“Few threats to peace and survival of the human community are greater than those posed by the prospects of cumulative and irreversible degradation of the biosphere on which human life depends. True security cannot be achieved by mounting buildup of weapons (defense in a narrow sense), but only by providing basic conditions for solving non-military problems which threaten them. Our survival depends not only on military balance, but on global cooperation to ensure a sustainable environment.”

Brundtland Commission Report, 1987

Saat ini ada dua masalah yang mengancam kehidupan bumi kita, yaitu krisis energi dan masalah lingkungan. Pemanasan global telah menjadi isu di level internasional. Para ilmuwan sepakat bahwa temperatur bumi meningkat, ancaman terhadap keberlangsungan hidup manusia pun makin terbuka. Es di kutub mencair, permukaan air laut meninggi, badai tornado terjadi di mana-mana, dan cuaca tidak menentu.

Penyebab utama pemanasan global adalah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan pembakaran sumber energi fosil oleh industri dan kendaraan bermotor. Dan konsumsi sumber energi fosil baik berupa minyak bumi atau batu bara semakin tinggi seiring dengan membesarnya roda ekonomi dunia.

Beberapa pengambil kebijakan yang concern dengan masalah lingkungan, terutama dari negara-negara maju, melihat pentingnya mencari sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Apalagi cadangan minyak bumi semakin menipis. Mau tak mau energi alternatif harus dicari.

Setidaknya ada beberapa sumber energi alternatif pengganti energi fosil, misalnya energi hidrokarbon, energi matahari, angin, gas, dan biofuel. Namun, sebagian alternatif belum bisa dikembangkan karena teknologinya masih mahal. Dan yang paling memungkinkan adalah biofuel, selain biayanya terjangkau, juga dapat mengurangi pemanasan global karena tidak mengeluarkan gas rumah kaca.

Tapi, proses pemenuhan energi alternatif dari biofuel bisa mengakibatkan terjadi krisis pangan dunia. Sebab, penyediaan biofuel mewajibkan adanya konversi tanaman dan lahan yang semula untuk pangan diubah menjadi fungsi pemenuhan energi.

Jadi, biofuel bisa mengganggu food security dunia. Dengan tingginya permintaan terhadap biofuel, petani-petani di seluruh dunia lebih memilih menanam tanaman yang digunakan untuk biofuel ketimbang tanaman pangan. Apalagi mereka insentif ekonomi untuk itu. Dalam jangka panjang, hal ini akan menyebabkan berkurangnya produksi pangan. Harga pangan dunia akan naik. Dampaknya akan dirasakan penduduk miskin di negara-negara berkembang.

Itulah dilema kita. Kita harus memilih antara mengembangkan energi alternatif untuk menghentikan pemanasan global atau mempertahankan sumber pangan.

Biofuel sebagai alternative energy

Masalah pemanasan global telah memaksa kita mencari solusi bagaimana mengurangi emisi gas rumah kaca. Tapi, karena tak mungkin menghentikan aktivitas manusia yang membutuhkan energi, solusi yang paling mungkin adalah mencari alternatif energi yang ramah lingkungan dan murah. Kenapa harus murah? Sebab, harga fossil fuel semakin tinggi. Tahun 2003 harga minyak dunia US$ 25/barrel. Dua tahun kemudian menjadi US$ 60/barrel. Pada tahun 2008 melonjak menjadi US$ 92/barrel, bahkan sempat menembus angka US$ 150/barrel. Namun, memasuki tahun 2009 kembali turun ke angka US$ 30/barel, tapi kini mulai merangkak naik lagi melebihi US$ 54/barrel.

Pertanyannya sekarang, apakah pengembangan biofuel didasari oleh keterbatasan sumber daya fosil atau ada faktor lain? Apakah kemunculan biofuel upaya untuk memperoleh energi murah akibat harga minyak dunia menguat? Jika harga minyak turun, apakah upaya pengayaan energi alternatif kembali menurun? Yang pasti, suatu saat nanti cadangan minyak bumi akan habis. Jadi, idealnya alasan memproduksi biofuels bukan karena melonjaknya harga minyak, tapi karena dunia memerlukan energi alternatif akibat cadangan fossil fuel semakin menipis.

Saat ini Indonesia menghasilkan sekitar 1 juta barel minyak/hari. Sementara konsumsi kita 1,4 juta barel. Kekurangan 0,4 juta barel, kita tutup dengan mengimpor minyak mentah setiap hari. Cadangan minyak bumi kita diperkirakan 9 miliar barel. Dengan angka konsumsi 1,4 juta barel per hari (setahun 450 juta barel), cadangan itu akan habis dalam waktu 20 tahun. Inilah alasan urgensi pengembangan biofuel.

Sebenarnya biofuel sudah dilirik sejak oil crisis tahun 1970-an. AS dan Brazil adalah dua negara yang paling cepat pertumbuhannya dalam memproduksi biofuel. Namun, produksiya sempat stagnan di era 1990-an. Produksi biofuel baru dikembangkan lagi menjelang tahun 2000 tatkala isu lingkungan dan isu krisis energi kembali mencuat.

Tahun 2005 produksi biofuel setara dengan 2% bensin dunia. Dari tahun 2000 sampai 2005, produksi etanol meningkat dari 4,6 miliar menjadi 12,2 miliar galon, atau meningkat 165%. Begitu juga dengan biodiesel. Tahun 2000 penggunaannya sebanyak 251 miliar galon, di tahun 2005 menjadi 790 milyar galon.

Meningkatnya harga minyak dunia juga berdampak kepada produksi pertanian. Ini karena proses produksi pertanian sekarang menggunakan peralatan yang menggunakan bahan bakar minyak. Karena itu, beberapa ahli melihat kenaikan harga minyak dapat berdampak pada menurunnya produksi pangan. Selain itu, patut diingat bahwa proses produksi pupuk menggunakan hidrogen yang berasal dari fossil fuel. Tatkala harga minyak dunia naik, maka kemampuan pembuat pupuk mengakses hidrogen pun makin terbatas sehingga harga pupuk melambung tinggi. Tingginya harga membuat petani tidak mampu mengakses pupuk. Hal itu tentu membuat petani jera bertani dan memilih menjadi buruh di kota-kota. Akibatnya, bahan pangan langka, harga naik, para konsumen semakin susah membeli.

Selain menjadi alternatif menghadapi krisis energi, biofuel dapat berperan mengurangi emisi gas rumah kaca. Sebab, biofuel adalah energi yang carbon neutral. Karbon yang dikeluarkan dalam proses pembakaran biofuel dapat direabsrobsi oleh tanaman-tananam yang baru ditanam dan tanaman-tanaman itu kelak akan menjadi biofuel yang baru. Carbon neutral tidak menambah jumlah karbon dioksida yang ada di atmosfer yang artinya pemanasan global tidak semakin parah. Penggunaan biofuel juga dapat mengurangi ketergantungan kita kepada negara-negara penghasil minyak.

Dampak biofuel terhadap krisis pangan

Namun, kehadiran biofuel bukan tanpa dampak negatif. Munculnya biofuel menghasilkan ancaman terhadap food security. Peningkatan permintaan biofuel akan mempertinggi ancaman food security karena lahan yang sebelumnya digunakan untuk pertanian dikonversi menjadi lahan biofuel. Akibatnya, kuantitas produksi pangan menurun. Kita harus siap menghadapi kekurangan bahan pangan.

Petani tidak bisa disalahkan. Ketika permintaan biofuel meningkat seiring tingginya harga minyak dunia, tentu mereka memilih menanam untuk biofuel. Apalagi ada insentif ekonomi. Alhasil, di beberapa negara, tanaman pangan diubah menjadi bahan mentah biofuel. Di Brazil dan AS panganan seperti singkong, jagung, sugarcane, dan sorghum telah dijadikan bahan mentah untuk biofuel. Dengan menggunakan sugarcane, Brazil memproduksi 4 miliar galon biofuel setahun. AS memproduksi 3 miliar ethanol dari jagung.

Pada akhirnya muncul kompetisi antara food dan fuel dalam penggunaan lahan. Meningkatnya produksi biofuel berkorelasi dalam pengurangan lahan untuk komoditas pangan. Sayangnya, hingga kini belum ada aturan untuk masalah ini.

Tidak hanya masalah lahan, food dan fuel bersaing di bidang investasi rural, pembangunan infrastruktur, tenaga kerja terlatih, dan masalah-masalah lainnya. Terlihat bahwa biofuel lebih diutamakan. Infrastruktur untuk lahan biofuel lebih diutamakan dan investastor lebih tertarik memproduksi biofuel. Semua fakta itu menunjukkan sebuah fenomena kepada kita: ada ancaman terhadap food security.

Dilema pangan dan energi di Indonesia

Undang-Undang Republik Indonesia No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan mendefinisikan food security sebagai kondisi dimana semua rumah tangga dan keluarga di Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pangannya dalam tiga hal, keamanan, ketersediaan, serta akses yang mudah. Dengan definisi seperti itu, kita dapat membagi food security ke dalam bidang: produksi, distribusi, dan konsumsi.

Sebenarnya, masalah utama food security ada pada produksi dan distribusi. Produksi pangan kita stagnan, sedangkan permintaan terus meningkat dari tahun ke tahun. Konversi lahan pertanian di Jawa menjadi fungsi-fungsi lain, makin membuat produksi pangan kita tidak menentu. Menurut Badan Pusat Statistik, setiap 5 tahun 106.000 hektar lahan pertanian dikonversikan. Sementara pembukaan lahan-lahan pertanian baru di luar Jawa tidak terlalu signifikan. Masalah food security kita diperparah dengan kebijakan pemerintah yang memilih mengimpor produk pertanian daripada membangun pertanian di dalam negeri. Ketergantungan pada luar negeri akan sangat berdampak pada food sovereignty (kedaulatan pangan).

Di sisi lain energi juga jadi masalah serius di Indonesia. Baru-baru ini pemerintah menurunkan harga BBM, setelah sebelumnya menaikkannya seiring dengan kenaikan harga minyak dunia. Pemerintah sepertinya lebih concern pada masalah krisis energi daripada potensi krisis pangan. Mungkin karena pemerintah masih punya opsi mengimpor bahan pangan dari negara lain. Di sinilah pemerintah kurang tanggap bahwa suatu saat akan terjadi kenaikan harga pangan yang tidak hanya terjadi di dalam negeri, tapi mengglobal akibat stagnannya produksi pangan dunia dan tingginya permintaan. Tentu ini akan sangat buruk dampaknya bagi rakyat kita.

Untungnya, hingga sekarang negara kita masih berkonsentrasi pada pengembangan Biodiesel, bukan bio-ethanol. Jadi, masalah di atas belum terlalu signifikan. Sebab, biodiesel bahan mentahnya tidak berasal dari tanaman pangan.

Kesimpulan

Sebenarnya kita dapat menjadikan biofuel dan biodiesel sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan. Namun, untuk itu perlu ada titik kompromi agar biofuel dan biodiesel tidak berdampak food insecurity. Misalnya, kita bisa menggunakan lahan-lahan kritis, bukan lahan produktif yang digunakan untuk tanaman pangan. Jumlah lahan kritis di Indonesia pun tidaklah sedikit. Dengan pembagian luas lahan yang baik antara lahan yang digunakan untuk produksi pangan dan biodiesel, ancaman krisis pangan karena bio-diesel dapat diselesaikan. Pemerintah bisa membuat aturan agar tanaman untuk biodiesel ditanam di lahan kritis,  bukan dengan mengkonversi lahan pertanian pangan.

Solusi lain untuk lepas dari dilema krisis energi atau pangan, pemerintah bisa meningkatkan produksi domestik komoditas makanan yang lazim dikonsumsi masyarakat Indonesia. Masih banyak orang miskin Indonesia yang menggunakan 75% penghasilannya untuk membeli makanan. Jika pemerintah tidak meningkatkan produksi dan hanya mengimpor, kenaikan harga komoditi impor atau pelarangan impor tiba-tiba dari negera ekportir akan sangat mempengaruhi kestabilan harga komoditi pangan di Indonesia.

Selain itu, pemerintah sudah seharusnya mengembangkan energi alternatif lain yang potensial seperti sun-based generators, wind-based generators, dan geothermal generators.

Memang tidak mudah menjadi pemerintah. Setiap kebijakan yang diambil bisa berbuntut pada munculnya permasalahan lain. Namun, pemerintah sebenarnya bisa memperbaiki kebijakan yang sudah ada dan mereduksi dilema yang muncul. Krisis energi bisa diselesaikan dengan menutupi inefisiensi pemakaian energi. Bayangkan berapa ton BBM yang terbakar sia-sia karena kemacetan. Krisis pangan pun sebenarnya tidak perlu terjadi dan energi alternatif biofuel pun tak berbuah masalah jika kebijakan pertanian pemerintah sudah berada di jalur yang benar. Sayangnya, bukan itu yang terwujud. Setiap mengambil kebijakan, selalu saja pemerintah menuai masalah-masalah baru. Inilah sesungguhnya ancaman yang selalu meneror rakyat kita.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Komentar Terbaru