Anggota Komisi XI
Dewan Perwakilan Rakyat - RI

Fostering Innovations

ekonomi-innovations2Menciptakan Teknologi, Demokrasi, dan Kemakmuran melalui Inovasi

Revolusi peradaban manusia telah terjadi secara besar-besaran dalam kurun seratus tahun terakhir. Revolusi ini telah mampu menciptakan dunia yang sama sekali berbeda dari dunia seratus tahun sebelumnya. Revolusi Amerika Serikat menciptakan sebuah paradigma baru tentang sistem pemerintahan yang bernama demokrasi. Revolusi Perancis menciptakan sebuah nilai baru bernama kebebasan, persamaan, persaudaraan. Revolusi Industri di Inggris menciptakan sebuah cara baru berproduksi. Ketiga revolusi tersebut memberi jalan bagi revolusi lanjutan yang mengubah cara hidup manusia (how the way people live), yaitu revolusi teknologi.

Ketiga revolusi pertama -Revolusi Perancis, Revolusi Inggris, dan Revolusi Amerika– merupakan prasyarat bagi terbukanya jalan menuju revolusi teknologi. Revolusi teknologi menciptakan sebuah cara baru bagaimana demokrasi dijalankan. Teknologi mampu memberikan cara baru bagaimana orang berdemokrasi. Revolusi teknologi juga menciptakan ruang publik baru (new public sphere) bagi kebebasan, persamaan, dan persaudaraan bagi sebagian orang; dan ruang itu disebut cyberspace.

Namun secara spesifik, revolusi teknologi terjadi karena adanya inovasi. Inovasi merupakan kata kunci bagi terciptanya  perkembangan teknologi secara bertahap terus-menerus. Sejarah teknologi merupakan sejarah terus menerus perkembangan inovasi.

Inovasi dan Demokrasi

Terdapat dua bentuk inovasi. Pertama, inovasi yang terjadi secara natural melalui penggunaan secara masif teknologi yang telah kita miliki. Kedua, inovasi yang terjadi secara tiba-tiba yang biasa kita sebut sebagai breakthrough innovation. Namun, kita tidak akan berbicara banyak mengenai inovasi model kedua karena itu berkaitan dengan research, apalagi inovasi kedua ini sangat tidak dapat diprediksi.

Sebaliknya, inovasi model pertama jelas-jelas berada tepat di depan mata kita, namun itu tidak pernah kita sadari sebagai sebuah inovasi yang berlangsung terus-menerus. Dulu, model handphone yang kita gunakan berbentuk besar dan harganya mahal. Laptop pertama yang kita miliki pun berspesifikasi terbatas dan tentu harganya mahal. Sekarang, produk-produk hasil teknologi yang kita miliki semakin maju dan canggih. Harganya pun jauh lebih murah dan akan terus lebih murah lagi. Itu adalah buah dari inovasi terus-menerus dalam menciptakan efisiensi dan cara-cara baru bagaimana sebuah teknologi menjadi jauh lebih murah dan dapat diterima  pasar.

Tom Friedman melihat bagaimana inovasi bekerja dengan caranya yang unik dan terkadang kita lupakan. Inovasi  seringkali berkerja tanpa kita sadari dan tanpa terlihat. Ia berkeja sepenuhnya mengikuti hukum alam paling primitif yakni bagaimana manusia harus bertahan hidup. Inovasi model inilah yang terus menciptakan dunia yang semakin baik bagi manusia. Inovasi inilah yang seharusnya kita berikan insentif.

Fareed Zakaria pernah berujar mengenai Resource Curse, “Kita yakin bahwa perubahan terjadi berkat adanya inovasi. Namun ada beberapa negara yang tidak pernah berubah dan berkembang karena negara-negara tersebut memiliki cadangan resource yang banyak.” Fareed berbicara mengenai wilayah Timur-Tengah. Menurutnya, perubahan tidak akan pernah terjadi selama inovasi tidak menjadi sesuatu yang dinilai tinggi. Bagaimana bisa inovasi dinilai tinggi bila resource yang banyak telah membunuh inovasi. Inovasi hanya bisa terjadi karena adanya keinginan untuk melakukan efisiensi. Inovasi pun terjadi karena adanya tekanan yang membuat manusia harus melakukan suatu lompatan untuk mempertahankan diri. Adanya sumber daya alam yang berlimpah bukanlah sebuah rahmat, melainkan kutukan. Sebab, berlimpahnya sumber daya alam menciptakan halangan bagi perkembangan inovasi.

Bahkan Larry Diamond, seorang teoretisi demokrasi, membuat sebuah hipotesis mengenai hubungan antara kebebasan dan minyak. Semakin besar resource yang hanya tinggal-ambil dari perut bumi, semakin tidak demokratis dan semakin tidak bebas negara tersebut. Menurut penelitiannya, dari 23 negara di dunia ini yang mayoritas ekspornya minyak dan gas alam, tidak ada satu pun berbentuk negara demokratis. Hal ini memerlihatkan bagaimana resource curse tidak hanya menghambat inovasi, melainkan juga menciptakan kondisi yang tidak demokratis. Bagaimana tidak, dengan adanya sumber daya alam, pemerintahan di negara itu menggantungkan dirinya pada sumber daya alam, dan bukan kepada usaha-usaha yang inovatif untuk menciptakan kemakmuran. Tentu ini bukan stereotype. Meski begitulah faktanya: negara-negara yang memiliki sumber daya alam yang banyak cenderung untuk tidak kreatif dan inovatif sehingga perkembangannya pun lambat. Inilah Resource Curse.

Inovasi dan Kemakmuran

Joseph Schumpeter berargumen bahwa teknologi adalah faktor yang menjadi mesin bagi economic growth. Ekonom Stanford, Paul M. Romer, mengamini apa yang dikatakan Joseph Schumpeter bahwa technological discoveries adds the driving engine of economic growth. Menurutnya, tanah, mesin, dan modal sangatlah terbatas, namun tidak halnya dengan ide dan pengetahuan yang menjadi dasar dari inovasi. Inovasi tidak mengikuti hukum the law of deminishing return sehingga semakin banyak inovasi makin membuat sebuah produk menjadi lebih murah dan murah. Ide dan pengetahuan embedded dengan perkembangan inovasi. Dengan demikian, terciptalah sebuah cara berekonomi yang lebih modern yang terkadang kita sebut creative economy, innovative economy, atau knowledge based economy dimana kesemuanya mereferensi terciptanya kemakmuran melalui value added yang berbasiskan inovasi.

Inovasi tidak akan terjadi bila tidak distimulus. Perkembangan green energy technology di suatu negara tidak akan mengalami percepatan bila harga energi-energi tak terbarukan seperti minyak, batu bara, dan gas bumi masih disubsidi. Begitu juga dengan produk-produk lainnya. Mekanisme pasar merupakan salah satu jalan bagaimana inovasi dapat terus berkembang. Seharusnya, mekanisme subsidi hanya dilakukan dalam rangka melakukan proteksi terhadap produk-produk yang memang membutuhkan proteksi dan bukan untuk membuat masyarakat tersihir dengan kondisi riil yang seharusnya dihadapi.

Manusia adalah makhluk yang sangat unik karena mampu mengeluarkan seluruh potensi yang dimilikinya. Bahkan, seseorang bisa memicu dan menggunakan potensi diri yang dimilikinya melebihi manusia pada umumnya hanya karena ingin mempertahankan diri dari ancaman luar. Revolusi teknologi juga merupakan sesuatu yang berasal dari perlunya manusia dengan cepat merespon tantangan-tantangan yang mengancam keberlangsungan hidupnya dengan memaksa mendayagunakan seluruh potensi yang dimilikinya. Inilah yang membuat manusia terus-menerus melakukan perbaikan-perbaikan sehingga ia mampu menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Inovasi dan Kebijakan Publik

Bagaimana dengan Indonesia, negera kita? Dalam buku Innovation Superhighway, Debra M. Amidon menjelaskan bahwa inovasi memiliki budayanya sendiri. Sebuah bangsa tidak akan mampu menciptakan inovasi tanpa adanya budaya inovasi. Membangun budaya inovasi tidak mudah karena ia harus dibangun di tiga level yang berbeda. Pertama, level mikro. Di level ini pembanguan budaya inovasi harus meliputi tiga sektor kehidupan –private, public, thrid sector/NGOs’, foundations– serta harus menyediakan dana bagi R&D. Kedua di level menengah, harus ada kompetisi di dalam masyarakat sehingga menstimulus inovasi terus-menerus. Sedangkan di level makro, perlu adanya infrastruktur global bagi terciptanya koneksi dan jaringan agar kerja kolaborasi global dapat menciptakan inovasi terus-menerus secara bersama-sama. Hal inilah yang membuat ICT terus mempercepat inovasi-inovasi selanjutnya.

Di sisi lain, para pengambil kebijakan sektor publik sangat berperan dalam menciptakan inovasi. Dalam bukunya berjudul Innovation in Public Sector Services, Paul Windrum mempertanyakan apakah sektor publik dapat melakukan inovasi juga? Lantas, dalam kondisi apa ia dapat melakukan inovasi? Jawaban dari pertanyaan tersebut sangatlah sederhana. Sektor pengambil kebijakan ini dapat melakukan inovasi dengan menggunakan kebijakan-kebijakan yang menciptakan insentif bagi masyarakat, baik di sektor swasta formal maupun informal, untuk terus menciptakan inovasi-inovasi kecil secara konsisten. Kebijakan yang efektif mensyaratkan adanya pemahaman akan hubungan antara sektor publik dengan keseluruhan performa ekonomi. Kita harus melihat sektor publik bukan di luar dari kegiatan ekonomi, melainkan bagian yang integral dari ekonomi itu sendiri.

Sebagai contoh, usaha membangun infrastruktur ICT oleh pemerintah akhir-akhir ini merupakan upaya konkret bagi penciptaan inovasi terus menerus. Karena dengan infrastruktur ICT, inovasi dapat jauh lebih berkembang. ICT menumbuhkan kolaborasi global dalam inovasi dan tentunya juga menumbuhkan network economy yang mampu menciptakan efisiensi dalam kegiatan ekonomi. Dengan demikian, agenda utama bangsa kita sekarang, selain memprioritaskan pendidikan, adalah membangun infrastruktur dan suprastruktur ICT di seluruh Indonesia. Jadi, pembangunan pilar ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan menjadikannya sebagai mesin pendorong ekonomi, harus menjadi prioritas dan memperoleh pemahaman yang utuh dari para segenap pengambil kebijakan negara saat ini. Tidak tepat lagi berpikir bahwa ketidakpahaman akan ICT menjadi alasan untuk tidak memulai membangun langkah-langkah besar ke arah itu. Sebab, jika kereta sudah meninggalkan stasiun, kita bukan hanya ketinggalan kereta, tapi juga kehilangan waktu. Jika tidak dimulai dari sekarang, kita akan tertinggal.

Tags: , , ,

Leave a Reply

Komentar Terbaru