Membangun Peradaban Asia (Bagian 2)
Pada tulisan sebelumnya, kita telah membahas free market sebagai katalisator dalam menciptakan semangat kompetisi. Meskipun free market memiliki berbagai macam kelebihan, namun ia juga memiliki kekurangan. Untuk itulah perlu kiranya berbagai macam penyesuaian-penyesuaian bila free-market ingin diterapkan di Indonesia. Nilai kebijaksanaan Barat berikutnya yang disebutkan oleh Kishore Mahbubani dalam bukunya, the New Asian Hemisphere adalah education serta science and technology. Kishore mengatakan bahwa peradaban Barat yang sedang berada di puncak peradaban memiliki fundamen yang kuat yakni education dan technology. Kishore membagi education dan technology. Namun, dalam hal ini, saya melihat education dan technology tidak dapat dipisahkan karena technology adalah hasil dari education.
Institusi pendidikan Barat sejauh ini adalah yang paling prestisius di Dunia. Berbagai macam perkembangan sains dan teknologi berawal dari institusi-institusi pendidikan Barat. Selama lebih dari dua ratus tahun sejarah dunia, institusi pendidikan Barat menjadi avant garde bagi perkembangan peradaban dunia. Perpustakaan-perpustakaan mereka menyimpan jutaan buku yang menjadi database pengetahuan terbesar di dunia. Institusi-institusi penelitian mereka adalah institusi penelitian paling produktif. Delapan puluh persen dana R&D dihabiskan di institusi-institusi pendidikan Barat. Delapan dari sepuluh universitas terbaik di dunia berada di Amerika Serikat. Dari 20 universitas terbaik, 17 adalah univeritas Barat. Dengan 20 persen populasi, Barat menguasai 80 Persen universitas terbaik di dunia.
Karakteristik Pendidikan Barat
Dalam tulisan ini, saya mencoba membedah apa yang menjadi karakteristik dari institusi pendidikan Barat. Karakteristik pertama pendidikan Barat adalah kemampuannya menciptakan inovasi terus-menerus melalui daya nalar kritis yang cenderung skeptis. Jurnalis Russel baker pernah berujar bahwa “An educated person is one who has learned that information almost always turns out to be at best incomplete and very often false, misleading, fictitious, mendacious – just dead wrong”. Dengan rasa curiosity bahwa pengetahuan tidak pernah sempurna, Barat mampu menciptakan proses pendidikan yang menghasilkan pemikiran-pemikiran serta inovasi-inovasi baru yang menggantikan pemikiran dan teknologi lama. Sederhana, karena filosofi pendidikan Barat tidak menempatkan proses pendidikan sebagai proses pewarisan pengetahuan lama kepada generasi baru melainkan proses untuk selalu mendobrak pola pikir-pola pikir lama dengan pola pikir baru yang jauh lebih cerdas dan efektif.
Kedua, pendidikan Barat tidak menekankan kepada pengetahuan sebagai sesuatu yang harus diketahui melainkan sesatu yang harus dipahami. “An education isn’t how much you have committed to memory, or even how much you know, but it is all about creating something out of nowhere”. Pendidikan yang didominasi oleh pemikiran analitis yang dibangun untuk beroperasi layaknya mesin hitung yang statis membuat pendidikan secara struktural resisten terhadap ide-ide baru. Pendidikan semacam ini dibangun untuk mempertahankan status quo Kata kuncinya adalah pendidikan bukanlah sebuah proses repetisi melainkan proses membangun pola pikir kreatif sehingga pendidikan mampu mengembangkan peserta didik dari waktu ke waktu.
Tampaknya ada benarnya pendapat Matematikawan Perancis Henri Poincar “ it is by logic we prove, but by intuition we create”. Pendidikan sudah semestinya tidak lagi dititikberatkan kepada kemampuan analitis semata tetapi juga dititikberatkan kepada pengembangan kemampuan intuitif yang baik sehingga pendidikan menjadi proses penemuan terus-menerus.
Karakteristik pendidikan Barat yang ketiga adalah adanya korelasi pengetahuan dengan pertumbuhan ekonomi. Barat tidak hanya memberikan dana penelitian yang besar untuk pengetahuan murni namun juga mampu menghasilkan pengetahuan yang dapat diimplementasikan dalam dunia bisnis. Barat memahami pernyataan “generate growth from scientific innovation”; bahwa pendidikan harus mampu menciptakan penemuan yang feasible secara teknologi dan viable secara ekonomi melalui berbagai macam improvisasi baik dalam desain teknologi dan rekayasa industri. Berkat improvisasi terus-menerus, Barat mampu menciptakan produk teknologi berbasiskan pengetahuan yang dapat kita nikmati dalam kehidupan sehari-hari. Alhasil, investasi dalam pendidikan dan teknologi tidak terbuang secara percuma karena mampu menciptakan keuntungan yang lebih besar lagi.
Tidak hanya keuntungan yang dihasilkan, improvisasi terus menerus membuat teknologi semakin lama semakin accessible di masyarakat. Kita masih ingat, dahulu Handphone adalah produk tersier dan mahal namun seiring berjalannya waktu kini Handphone semakin viable di masyarakat. Produk-produk green technology yang sekarang masih belum viable secara ekonomi lambat laun akan dapat dinikmati oleh masyarakat dunia.
Dengan paradigma pendidikan “generate growth from scientific innovation”, maka kedepan pertumbuhan ekonomi tak dapat dilepaskan dari inovasi. Tak heran bila science and technology menjadi fundamen kokoh bagi peradaban Barat. Amerika Serikat sendiri, dengan populasi hanya sebesar 5 persen dari total populasi dunia, mampu menguasai 30% output dunia selama 125 tahun. Keberhasilan Amerika Serikat ini tentu berkat penguasaan teknologi yang mereka miliki. Apa yang menjadi kunci dasar pendidikan Barat adalah kemampuannya untuk menstimulus competitiveness.
Yang menjadi karakteristik keempat pendidikan Barat adalah cara pandang bagaimana Barat mempersepsikan teknologi. Guru manajemen, Peter Drucker pernah berujar bahwa “Technology is not about tools, it deals with how Man works.” Begitulah Barat mempersepsikan teknologi. Teknologi bukan sekedar alat melainkan pola pikir dan bagaimana cara manusia bekerja. Memahami bagaimana berpikir tentang teknologi merupakan ilmu yang jauh lebih penting untuk diajarkan. Berpikir tentang teknologi adalah berpikir tentang ide-ide baru. Masyarakat yang melihat teknologi hanya sebagai alat akan terus menjadi masyarakat pengguna. Namun, masyarakat yang melihat teknologi sebagai pola pikir akan terus mampu menciptakan ide-ide baru dan segar.
Adalah sebuah kesalahan tatkala kita berbicara mengenai teknologi maka kita berbicara mengenai produk. Harus diingat “Technology is not just high tech, but includes all methods and tools for doing “business,” ranging from manual procedures to sophisticated automation”. Kehebatan Yahoo, Google, YouTube, dan perusahaan berbasis teknologi lainnya bukan hanya terletak pada produk yang dihasilkan melainkan kecanggihan dalam proses “bisnis” dan kreatif yang mereka lakukan.
Bila kita tarik benang merahnya maka kunci dari keempat karakteristik pendidikan Barat diatas adalah menumbuhkan semangat competitiveness, innovation, creativity, dan intuition. Sebuah kekonyolan bila kita selalu menyalahkan negara maju yang tidak mau melakukan transfer of technology kepada kita. Seharusnya kita memahami, transfer of technology is not about transfering the so-called technology but about transfer of ideas for creating innovation itself. Dengan pola pikir teknologi sebagai ide, maka kelak kita akan mampu menciptakan teknologi kita sendiri.
Mengejar ketertinggalan
Memang institusi-institusi pendidikan Barat yang berorientasi kepada kemajuan sampai sekarang adalah institusi-institusi pendidikan yang terbaik. Namun, Asia tidak ingin tertinggal terlalu lama, ia mencoba mempelajari bagaimana sistem pendidikan Barat mampu menciptakan inovasi-inovasi teknologi yang terus mengakselerasi perkembangan peradaban Barat. Tak heran jutaan orang Asia sekarang belajar di institusi-institusi pendidikan Barat. Mereka merasakan pendidikan Barat. Lambat laun, Asia mampu mengambil best practice dalam institusi-institusi pendidikan Barat dan mengimplementasikannya di dalam masyarakat mereka masing-masing. Jepang mengambil sistem pendidikan Perancis dan menerapkan kurikulum Amerika di dalam sistem pendidikannya. Alhasil Jepang mampu memunculkan dirinya sebagai salah satu pusat pendidikan terkemuka di Dunia. Dalam hal pengelolaan sumber daya manusia
Sekarang, lebih banyak Doktor yang dihasilkan Cina daripada keseluruhan Doktor yang dihasilkan oleh Amerika. Di tahun 2004, Cina telah berhasil meluluskan 30.000 doktor. Negara ini juga telah meluluskan lebih dari 200.000 insinyur. Di tahun 2004, lebih dari 200.000 orang yang kembali ke Cina setelah bekerja di berbagai belahan dunia. Cina mengalami apa yang disebut Brain Gain dimana berbagai macam sumber daya manusianya kembali membangun negaranya. Di tahun 2002, lebih dari 750 perusahaan multinasional yang membuka pusat R&D di Cina. Asia mulai belajar menciptakan keajaiban revolusi pengetahuannya dari institusi-institusi pendidikan Barat.
Cina dan India dalam beberapa dekade kedepan diprediksi dapat mengalahkan Amerika Serikat dalam bidang pengembangan teknologi. Salah satu faktor yang paling menentukan perubahan ini adalah perkembangan pesat institusi pendidikan yang berdampak kepada perkembangan teknologi. Semua orang tahu, sekarang sistem pendidikan Amerika sedang berada dalam masa krisis. Tahun demi tahun siswa-siswa Amerika semakin kalah bersaing dengan siswa-siswa dari Asia dalam hal sains dan matematika. Tahun demi tahun pula, statistik menujukkan sekolah-sekolah Amerika semakin menurut dalam rangking internasional. Dan permasalahan dalam sistem pendidikan Amerika Serikat bukanlah masalah kualitas pendidikannya melainkan masalah akses bagi warga negara yang kurang mampu. Di Amerika Serikat, sekolah-sekolah publik jauh lebih buruk dari sekolah-sekolah swasta dan masyarakat menengah kebawah tidak mampu memasuki sekolah-sekolah terbaiknya.
Pendidikan adalah masalah kesempatan dan akses. India memperlihatkan bagaimana perkembangan teknologi dan pengetahuan melesat tatkala India mulai meninggalkan semangat kasta di masyarakat India. Lantas apa hubungan antara hilangnya semangat kasta dengan perkembangan teknologi? Simply, lebih banyak otak-otak dan talenta-talenta yang sebelumnya tidak memiliki privilege untuk mendapatkan pengetahuan akhirnya dapat merasakan lezatnya ilmu pengetahuan. Talenta-talenta inilah yang memberikan keajaiban bagi India. Kunci dari kesuksesan India adalah populasi yang dapat menikmati pendidikan. Begitu banyak ilmuwan-ilmuwan India yang dahulunya berasal dari kasta rendah. Namun berkat pendidikan, mereka sekarang menjadi tulang punggung bagi kebangkitan India.
Permasalahan di Indonesia tak berbeda jauh dengan di India. Masyarakat dan pemerintah pada umumnya tidak cukup berinvestasi dalam pendidikan-terutama di daerah-daerah dimana investasi ini akan membantu orang miskin. Investasi per kapita Indonesia dalam hal teknologi pun masih rendah padahal sistem pendidikan terbukti menjadi fundamen penting dalam kisah sukses bangsa-bangsa lainnya. Jika kita tidak menemukan cara untuk memperbaiki sekolah-sekolah kita, dan membuat mereka lebih efektif dan lebih mudah diakses, kita akan menjadi bangsa yang kurang kompetitif dibandingkan bangsa lain. Pada akhirnya, kunci dari awal kesuksesan kita membangun institusi pendidikan yang baik adalah aksesibilitas terhadap pendidikan bagi semua kalangan di masyarakat.
Tags: barat, pendidikan, Sains, teknologi










