Membangun Peradaban Asia
Abad ke-21 adalah abadnya Asia. Itulah mungkin kesimpulan yang bisa kita tarik dari fenomena-fenomena yang terjadi di awal abad ke-21 ini. Semenjak revolusi industri dimulai, praktis seluruh dunia berada dalam cengkraman Barat. Di masa puncaknya, tidak ada satu pun tempat di bumi ini yang belum pernah dijamah oleh tangan-tangan Eropa. Tiga peradaban Asia kala itu, Islam, India, dan Cina tunduk dibawah kaki imperialisme Eropa. Tiga peradaban yang turut mengukir 2000 tahun sejarah peradaban manusia tenggelam dan tertidur panjang. Praktis, 200 tahun terakhir sejarah umat manusia diisi oleh narasi Barat. Di masa kejayaan Barat, 25% GDP dunia adalah GDP Barat dan Asia yang memiliki setengah lebih jumlah penduduk hanya menyumbangkan 37,2%.
Namun, Barat tampaknya tidak bisa mempertahankan dominasinya terus-menerus. Asia perlahan mulai mempelajari rahasia bagaimana Barat mempertahankan dominasinya terhadap Asia. Negara Asia pertama yang memahami rahasia Barat ini adalah Jepang. Tak heran bila Jepang menjadi satu-satunya negara yang masuk menjadi anggota G-8. Namun Jepang bukan satu-satunya, Korea Selatan, Cina, Singapura, India, dan negara-negara Asia lainnya perlahan tapi pasti terus memperlihatkan pemahaman mereka akan rahasia kebijaksanaan Barat ini.
Rahasia Tujuh Kebijaksanaan Barat
Kishore Mahbubani dalam buku terbarunya the New Asian Hemisphere, mengungkapkan ide yang menarik terkait rahasia negara-negara Asia Timur dalam mengambil alih kepemimpinan Barat di berbagai bidang. Kishore melihat bahwa terdapat tujuh kebijaksanaan Barat yang membuat Barat mampu bertahan menjadi the leading civilization selama lebih dari 200 tahun. Menurut Kishore, negara-negara AsiaTimur perlahan mulai belajar kebijaksanaan Barat ini dan mengubah arah peradaban from the west to the east. Tujuh kebijaksanaan Barat tersebut menurut Kishore adalah Free-Market Economics, pragmatism, culture of peace, Science and Technology, Education, rule of law, dan meritocracy. Tatkala Asia mengimplementasikannya, Kishore percaya Asia akan kembali menjadi pusat peradaban dunia
Dalam bagian pertama tulisan ini, saya akan membahas free-market Economics yang dipersepsikan oleh Kishore Mahbubani dan kaitannya dengan Indonesia. Kishore percaya bahwa free market adalah kunci dari keberhasilan Barat dan beberapa negara Asia Timur yang mengikuti kesuksesan Barat. Free market merupakan play ground dimana semua orang bebas untuk berkompetisi dan bersaing tanpa ada campur tangan dari pihak yang berkuasa. Dalam sejarahnya memang belum ada sebuah perekonomian yang tertutup mampu menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya sehingga sampai sekarang free-market dianggap sebagai salah satu sistem perekonomian yang dianggap sebagai yang terbaik.
Adalah pasar bebas yang sampai sekarang terbukti mampu menciptakan kemakmuran global karena Free market tentu akan menghilangkan hambatan-hambatan yang selama ini membuat pasar domestik menjadi tidak efektif. Tanpa adanya free flow of goods, separuh dunia tidak akan mampu menikmati barang yang murah. Tanpa adanya free flow of capital dan free flow of investment, modal hanya berputar di negara-negara maju. Kedepan, free flow of skilled labor dan free flow of services juga akan menjadi bagian integral dari free-market. Kebebasan yang diberikan kepada individu-individu untuk menentukan apa yang ingin dia lakukan merupakan faktor kritikal yang menciptakan percepatan dalam pertumbuhan ekonomi.
Konsekuensi free-market adalah munculnya competitiveness. Competitiveness merupakan salah satu katalisator bagi pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Tanpa adanya semangat competitiveness, peradaban manusia tidak akan pernah mencapai tahapan sebagaimana yang dirasakan sekarang. Inheren di dalam competitiveness semangat inovasi dan self-development. Sekarang kita dapat memahami bagaimana prinsip free-market dan competitiveness telah merevolusi cara pandang manusia terhadap lingkungannya.
Dibutuhkan lebih dari 5000 tahun untuk menemukan mekanisme roda. Dibutuhkan satu milenium untuk membuktikan bumi itu bulat. Namun hanya dibutuhkan 75 tahun bagi Barat untuk menciptakan Bom Atom semenjak Nobel menemukan dinamit. Hanya dibutuhkan waktu dua dekade dari penemuan mobil untuk menemukan pesawat. Dan Barat hanya membutuhkan waktu tiga dekade dari penemuan pesawat untuk menemukan pesawat ulang alik. Tidaklah merasa terasing seseorang yang hidup di tahun 700 M bila ia terdampar di tahun 700 SM. Namun, akan sangat terasing bagi seseorang yang hidup di tahun 2000 bila ia terdampar di tahun 1900. dalam seratus tahun, dunia terus berlari dan berubah.
Memang benar dalam sejarahnya, competitiveness terkadang diselubungi dengan pengorbanan manusia. Perang Salib, kolonialisme, Perang Dunia I dan II serta Perang Dingin juga merupakan residu dari competitiveness. Namun manusia belajar dari kesalahan-kesalahan mereka. Eropa adalah contoh terbaik dari kematangan sebuah masyarakat dalam menghadapi competitiveness. Semenjak Perang Dingin berlalu, Eropa telah belajar bahwa perang bukanlah jawaban dari kegagalan berkompetisi. Terbentuknya Uni Eropa menjadi contoh bagaimana setiap negara dalam sebuah region menghormati persaingan dengan negara-negara sehingga praktis, semenjak Perang Dingin usai, Eropa menjadi daerah yang rendah akan potensi perang (tentu dengan asumsi Perang Balkan adalah sebuah anomali)
Kishore percaya virtue of free-market menjadi penggerak bagi terciptanya miracle of Asia. Cina yang selama masa kepemimpinan Mao Zedong menutup diri dari Free-Market mengalami kehancuran total dimana kemiskinan dan kelaparan merajalela. Namun semenjak Cina berada dibawah Deng Xiaoping, Free-Market menjadi punggawa perekonomian Cina. Semenjak tahun 1978, Cina terus mengalami pertumbuhan ekonomi yang signifikan dengan menjalankan free-market.
Free-Market dan Indonesia
Dalam beberapa hal, apa yang dikatakan Kishore terkait free-market ada benarnya. Semangat dari free-market adalah competitiveness dan Kishore melihat free-market sebagai playing ground dari kompetisi ini. Namun, satu hal yang luput diamati Kishore adalah level dari setiap pemain yang bermain dalam playing ground ini tidaklah sama. Benar bahwa free-market menciptakan competitiveness, namun free-market tidak bercerita mengenai bagaimana kesiapan setiap pemain yang bermain di dalam playing ground bernama free-market. Disinilah free-market berada di bawah sorotan.
Free-market adalah tren global dan kita sebagai bagian dari masyarakat dunia tidak mungkin bisa menghindar dari free market. Jepang, Cina, dan Korea Selatan adalah contoh negara-negara yang bergerak menuju pasar bebas. Namun kita lupa selama lebih dari tiga dekade, mereka telah menyiapkan berbagai macam infrastruktur untuk menyiapkan pemain-pemain lokal mereka dalam playing ground berupa free-market. Cina sendiri baru masuk menjadi anggota WTO tahun 2001 yang berarti Cina siap menghadapi persaingan bebas tatkala mereka yakin dengan para pemain-pemain lokal mereka.
Ketidakadilan juga diterapkan oleh negara-negara Barat. Tatkala Barat belum memiliki saingan, mereka terus mengkampanyekan perdagangan bebas ke seluruh Asia. Namun tatkala negara-negara Asia telah siap menghadapi perdagangan bebas, Uni Eropa dan Amerika Serikat yang merepresentasikan Barat malah mulai menutup diri terhadap perdagangan bebas dengan kebijakan proteksionismenya.
Disinilah pentingnya affirmative action dari pemerintah agar setiap pemain-pemain lokal di Indonesia mampu bersaing dalam free-market. Namun bukan berarti kita tidak siap dengan free-market. Ketidaksiapan para pemain lokal dalam menghadapi free-market tidak serta-merta membuat kita tidak mau ikut dalam free-market. Ketidaksiapan kita haruslah menjadi masalah temporal yang pada akhirnya dapat kita selesaikan sendiri. Untuk itu, peran negara harus kuat dalam menciptakan pemain-pemain lokal yang kompetitif dalam free-market. Selain itu, Indonesia harus membangun cluster ekonomi unggulan sehingga memiliki comparative advantage dalam free-market yang akan dihadapi.
Kita secara natural memiliki berbagai macam keunggulan mulai dari jumlah sumber daya alam yang berlimpah, SDM yang banyak serta pasar yang besar. Sudah seharusnya semua ini dimanfaatkan bagi pembangunan comparative advantage kita. Kishore benar bahwa free-market merupakan alat untuk menciptakan kemakmuran. Namun ia bukanlah sesuatu yang harus diterima secara given. Bagi kita Free-market adalah kondisi yang harus kita lewati. Ketidakadilan yang inheren dalam free-market, ketidaksempurnaan pasar, dan moral hazard para pelaku pasar harus dieliminir melalui peran negara yang kuat sebagai penjaga malam. Ini yang saya lihat luput menjadi perhatian Kishore.










