Anggota Komisi XI
Dewan Perwakilan Rakyat - RI

Memperjuangkan Amnesti

Masuk surga.  Siapa yang tidak mau? Memang itu yang sangat sangat kita harapkan. Saya jadi teringat sebuah obrolan warung kopi. Entah dengan maksud berseloroh atau sungguhan ada orang yang berharap mendapatkan hidup seperti ini: masih kecil dimanja, saat remaja hura-hura, sudah dewasa hidup kaya raya, ketika mati masuk surga.

Jika pun kalimat itu diucapkan dengan kesadaran yang penuh, saya tidak menyalahkan filosofis hidup seperti itu –ini kalau cara berpikir itu bisa dikategorisasi sebagai sebuah falsafah hidup ya–. Tapi, yang saya tahu sebagai seorang muslim saya selalu berdoa kepada Allah swt. agar diberikan kehidupan yang baik ketika di dunia, mendapat kehidupan yang baik ketika di akhirat, dan dijauhkan dari api neraka. Rabbanaa aatinaa fiid-dunya hasanah wa fiil-akhirati hasanah waqinaa adzaban-naar.

Itulah hakikat kesuksesan bagi saya sebagai seorang muslim. Di dunia sukses mendapat kehidupan yang baik dan ketika mati langsung masuk surga tanpa hisab. Tak heran milyuner sekelas Abdurrahman bin Auf bersedih ketika ada orang yang menyampaikan ucapan Aisyah bahwa Rasulullah saw. mengatakan, Abdurrahman bin Auf akan masuk surga dengan merangkak. Maksud merangkak di sini mungkin dalam pengertian sesuai dengan teksnya ‘berjalan sejajartanah dengan bertumpu pada kedua tangan dan kaki; atau bisa juga bermaksud ‘lama, tidak cepat’. Sebab, ada hadits Rasulullah saw. yang mengabarkan bahwa orang-orang kaya akan masuk surga paling akhir karena lamanya proses hisab (baca: audit kekayaan dengan klarifikasi dari mana didapat dan untuk apa saja pemanfaatannya).

Abdurrahman bin Auf menangis. Lantas ia berkata, “Aku bisa masuk surga dengan jalan tegak.” Maka, ia sedekahkan semua hasil transaksi datangnya yang baru tiba ke Madinah berikut 700 ekor unta yang mengangkutnya. Abdurrahman bin Auf baru bisa bergembira ketika datang utusan Rasulullah saw. membawa kabar gembira bahwa ia akan melintasi jembatan Sirathal Mustaqiim menuju surga dengan kecepatan seperti kilat menyambar.

Yang menarik di sini, Abdurrahman bin Auf bersedih hanya karena ia terlambat masuk surga. Padahal ia masuk surga! Ia menyesali bagaimana cara dirinya masuk surga. Bagaimana dengan kita?

Yang pasti kita bukan salah satu orang yang diramal Rasulullah saw. sebagai orang yang dijamin masuk surga seperti yang diterima oleh Abdurrahman bin Auf. Jika kita mau jujur terhadap diri kita sendiri, maka kita akan bisa mencatatkan berlembar-lembar daftar dosa di buku harian kita. Kita jadi ragu, apa pantas kita masuk surga? Pasti kita akan dihisab. Di sidang di mahkamah Allah Yang Mahaagung. Jika semua amal baik yang pernah kita kerjakan tidak cukup beratnya mengimbangi berat timbangan dosa kita, maka kita akan diberi hukuman berupa pembersihan dosa-dosa yang masih melekat di diri kita dengan proses pembakaran di neraka jahanam untuk waktu tertentu yang ditetapkan Allah swt. Kata Rasulullah saw., panasnya permukaan neraka sudah bisa membuat otak kita mendidih. Tentu ini sangat mengerikan. Menyakitkan.

Lantas adakah jalan bagi orang-orang yang sudah terlanjur berbuat dosa agar bisa masuk surga tanpa hisab, tanpa masuk neraka terlebih dahulu? Bagaimana caranya kita memperbaiki setiap kesalahan yang pernah kita lakukan?

Tobat. Perasaan bersalah dan ingin memperbaiki kesalahan, itulah tobat. Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang sangat suka dengan orang-orang yang punya rasa sesal ketika berbuat salah dan ingin memperbaiki semua kesalahannya. Karena itu, Allah swt. memberi kesempatan seluas-luasnya kepada orang-orang yang bertobat untuk bisa masuk surga tanpa proses hisab. Pintu tobatnya dibuka sepanjang sore hingga pagi ketika di malam hari; dan sepanjang pagi hingga menjelang malam ketika siang hari. Dua puluh empat jam sehari. Itu waktu yang diberikan Allah kepada kita untuk memperjuangkan amnestiNya.

Salah satu amnesti Allah ada di bulan Ramadhan. Setiap Ramadhan tiba saya selalu mendengar para penceramah mengutip sabda Rasulullah saw. bahwa, sepuluh hari pertama Allah menurunkan rahmatNya, sepuluh hari pertengahan Allah memberikan ampunan, dan sepuluh terakhir Allah menjauhkan kita dari api neraka. Jadi, berpuasa selama sebulan penuh bisa membebaskan kita dari api neraka.

Ketika Ramadhan berakhir, orang-orang yang berpuasa kembali menjadi suci. Fitrah. Seperti bayi baru lahir. Catatan bukunya bersih tanpa noda dosa. Allah memaafkan segala kesalahan yang pernah kita perbuat, kecuali kesalahan kepada sesama manusia. Karena itu, kita perlu keliling ke keluarga, kerabat, sahabat, tetangga, teman sejawat, dan siapapun yang pernah berinteraksi dengan kita untuk meminta maaf.

Begin from the end. Begitu pelajaran ilmu managemen yang pernah kita dapat. Apa tujuan akhir yang ingin kita dapat dari Ramadhan? Mendapat amnesti dari Allah swt. Harus itu jawabannya. Jika kita ingin memperjuangkan amnesti itu, tentu spirit yang harus muncul dalam diri kita adalah jangan sia-siakan setiap satu menit di bulan Ramadhan tanpa memperjuangkan amnesti. Artinya, kita harus mengikuti semua program Ramadhan yang Allah berikan.

Semangat seperti itulah yang diinginkan ada di dalam diri kita oleh Rasulullah saw. Beliau berkata, barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan ihtisaban, Allah akan mengampuni semua dosa-dosa yang telah lalu. ‘Ihtisaban’ sering dipadankan dengan kata ‘gembira’. Dalam bahasa arab ‘ihtisaban’ akar katanya ‘hasaba’, artinya berhitung. Jadi, makna dasar kata ‘ihtisaban’ adalah eman-eman dalam bahasa Jawa, itung-itungan menurut dialek Betawi, teliti, pernuh perhitungan, penuh perencanaan. Jadi, yang berhasil dalam program Ramadhan adalah muslim yang menerapkan prinsip ekonomi: bagaimana dengan modal yang terbatas mendapat pahala yang sebesar-sebesarnya. Waktu yang sebulan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Tidak boleh ada potensi loss. Setiap detik ada argonya. Harus diisi dengan aktivitas ibadah yang menjadi faktor terbitnya amnesti dari Allah swt. Begitulah kita berharap di bulan Ramadhan tahun ini. Kita bisa mendapat amensti dari Allah swt. Amin.

Leave a Reply

Komentar Terbaru

  • invest liberty reserve: Excellent post at Preventing Offensive Capabilities Prolifer...
  • faridi: assalamu alaikum.. pak kemal sy butuh informasi lebih banyak...
  • arip: makasih pa ilmunya...
  • anollaGaH: I have got to confess I constantly think that ...