Network Economy Transformation
Revolusi Teknologi Komunikasi dan Informasi Sebagai Kunci Kemajuan Ekonomi
Teknologi dan pengetahuan di dunia terus berkembang dengan sangat-sangat cepat. Kecepatan perubahannya memberikan dampak yang sangat berarti pada kemajuan dan pertumbuhan sektor ekonomi. Dahulu kegiatan perekonomian tergantung dengan apa yang terjadi di dalam pasar. Namun sekarang setiap pemain dalam pasar dapat menciptakan sumber pasarnya sendiri. Dahulu perekonomian sangat dibatasi dengan hal-hal seperti jarak, tempat, dan informasi. Namun sekarang jarak menjadi hilang, tempat menjadi tidak relevan, dan informasi begitu derasnya mengalir. Inilah tren global yang akan kita hadapi.
Lanskap perekonomian secara keseluruhan telah berubah seiring dengan berjalannya waktu. Aspek-aspek dalam kegiatan ekonomi tidak lagi ortodoks sebagaimana yang kita lihat sebelumnya. beberapa ahli mengatakan, kita telah memasuki era network economy. Kata kunci dalam perekonomian model ini adalah connectivity, innovation, participation, dan efficiency.
Network Economy yang inovatif
Infrastruktur Network Economy ini tak lain adalah Information and Communication Technology (ICT). Teknologi komunikasi dan informasi (ICT) telah mengubah banyak negara menjadi maju dan berkembang, seperti negara-negara di Eropa bagian Barat, Asia Timur, dan Amerika Serikat. Peranan ICT dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sosial telah menjadi perhatian besar di beberapa tahun belakangan ini, terutama pada isu tata ekonomi dunia. Penerapan ICT mulai dari telepon hingga internet gratis yang membuat kegiatan ekonomi menjadi berbiaya rendah. Dahulu perekonomian digerakkan atas dasar sumber daya alam dan tenaga kerja. Perekonomian yang berbasis industri merupakan contoh nyata ketergantungan kepada dua variabel ini.
Sekarang kita masih melihat bagaimana perusahaan-perusahaan berkolaborasi antara satu sama lainnya tanpa adanya rintangan komunikasi. Di masa lalu kolaborasi berada dalam skala kecil seperti antara keluarga, teman, dan tempat kerja, namun sekarang kolaborasi bisa mengglobal. Dengan munculnya Web 2.0, setiap orang yang memiliki akses terhadap internet akan mampu berpartisipasi dalam kolaborasi global untuk menciptakan sebuah perekonomian yang inovatif.
Pertumbuhan aksesibilitas teknologi informasi menghasilkan alat baru yang diperlukan bagi terciptanya kolaborasi. Hal ini membantu orang untuk berpartisipasi dalam inovasi dan pencarian akan kemakmuran individu. Kita lihat bagaimana setiap individu-individu terus meraih kemakmuran melalui kerja kolaboratif yang menghasilan inovasi-inovasi tiada henti. Google yang hanya didirikan oleh dua orang mampu menjadi perusahaan besar, begitu pula YouTube, Facebook, dan berbagai macam hasil inovasi dari keberadaan network economy.
Network Economy juga menempatkan pengetahuan layaknya sebuah sumber yang tidak memiliki sekat dan batas. Kita memahami dalam hukum terdapat copyrights (hak cipta) dan pengaturannya juga diatur di dalam TRIPs (Trade Related Intelectual Property rights). Network Economy menghancurkan sendi-sendi elitisme pengetahuan yang selama ini dijaga ketat oleh kapitalisme melalui instrumen seperti hak cipta dan lain sebagainya. Semua orang berhak untuk menggapai apa yang ia inginkan bila ia memiliki akses internet, dalam hal ini the uses of technology creates wealth of knowledge. Pengetahuan seperti layaknya air dalam sebuah panci raksasa yang dapat diakses terus tanpa akan ada yang dirugikan. ICT membuat kita merasa tidak ada yang tidak dapat kita ketahui tatkala orang lain tahu.
Ada yang melihat kemunculan Network Economy merupakan ancaman bagi keberadaan perusahaaan-perusahaan besar yang memiliki modal yang besar. Tentu saja ini merupakan ancaman karena dengan adanya network economy, tidak ada lagi yang mampu dimonopoli. Pengetahuan yang selama ini dijaga melalui mekanisme kekayaan intelektual, runtuh dengan adanya Network Economy dimana semua orang berpartisipasi serta berbagi dalam mencapai kemakmuran. Kerja kolaborasi ini menciptakan komunitas-komunitas yang kreatif dalam melakukan inovasi-inovasi.
Model perekonomian ini menciptakan sebuah inovasi yang mampu memberikan manfaat kepada masyarakat dunia secara umum. Beberapa usaha menemukan penyakit dan kandungan obat dilakukan secara partisipatif melalui mekanisme saling berbagi antara satu ilmuwan dengan ilmuwan lainnya. Sebagai contoh, proyek genome manusia dilakukan melalui aktivitas di internet dimana setiap ilmuwan terus meng-up date data genome manusia di seluruh dunia. Selain itu, beberapa ilmuwan yang meneliti mengenai produktivitas pertanian menerbitkan hasil riset mereka di bawah mekanisme BIOS (Biological Open Source Licenses).
Dengan infrastruktur ICT, wealth of knowledge merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan. James Canton dalam bukunya The Extrem Future menyebutkan bahwa internet akan menjadi jejaring global yang paling besar untuk menyebaran ide, perdagangan, pendidikan, dan kesehatan.
Indonesia dan Network Economy
Bagaimana dengan Indonesia? Apa dampak Network Economy dan infrastruktur ICT dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Patut dicatat bahwa ICT tidak hanya menciptakan kolaborasi global yang inovatif berbasiskan connectivity, melainkan juga mampu menciptakan multiplier of productivity berbasiskan efisiensi. Mulitpiler of productivity yang dihasilkan oleh infrastruktur ICT lebih besar 15% daripada perekonomian yang tidak menggunakan ICT. Artinya, ICT mampu memberikan efek yang signifikan terhadap tingkat produktivitas suatu masyarakat. Produktivitas ini terkait dengan economic values yang dihasilkan oleh ICT. Bayangkan sebuah produk dari desa terpencil di Jogjakarta hanya akan dinilai rendah karena pasaran tidak merespon produk tersebut. Bayangkan hasil pertanian jagung atau beras di pelosok Jawa Barat hanya akan ditawar murah karena permainan segelintir orang dalam pasar. Namun apa yang terjadi bila produk tersebut dipasarkan di ebay.com. Inilah yang dilakuka oleh petani cokelat di Sulawesi Selatan. Seluruh dunia akan melihat produk tersebut dan produk tersebut memiliki probalilitas untuk dibeli dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Sebagai contoh, di salah satu desa di Jogjakarta, seorang ekspatriat mengorganisir penduduk desa untuk membuat sebuah barang produk kerajinan lokal. Penduduk sangat senang dapat bekerja dan mendapatkan upah dari pekerjaannya membuat produk kerajinan lokal. Namun, sang ekspatriat tidak memasarkan produknya di pasar lokal. Ia memasarkan produknya melalui internet. Network Economy bekerja dalam hal ini. Alhasil, produk-produk lokal ini dapat laku di pasaran internasional. Akhirnya Connectivity menciptakan pasarnya sendiri yang menembus batas-batas pasar konvensional.
Network Economy yang berbasiskan ICT juga berfungsi menciptakan pasar yang jauh lebih adil. Joseph Stiglitz berpendapat, pasar tidak pernah sempurna karena selalu terjadi bias informasi di dalam pasar. Setiap aktor yang bermain dalam pasar memiliki tingkat informasi yang berbeda antara satu sama lainnya yang membuat mekanisme pasar pada akhirnya tidak sempurna. Stiglitz menyebut kondisi ini sebagai asyimetrical information.
Network Economy mampu menghilangkan halangan ini sehingga membuat mekanisme pasar berjalan tanpa ada aktor-aktor yang dirugikan. Contoh dari permasalahan ini tentunya adalah petani jagung di Garut yang selalu membawa seluruh hasil panennya ke pasar. Sang petani harus mencari di pasar terdekat mana yang sedang membutuhkan hasil panennya. Tatkala di pasar ia tidak menemukan pembeli, maka ia akan menjual hasil panennya dengan potongan harga hingga 50%. Hal ini tentu merugikan si petani. Belum lagi, informasi yang tidak tepat membuat para petani menjual hasil pertaniannya kepada para tengkulak yang menilai rendah harga hasil pertanian mereka. Tragisnya pola seperti ini telah berlangsung puluhan tahun. Seakan-akan ada sebuah “kekuatan” besar yang menjaga agar petani senantiasa tergantung dan tidak berpengetahuan sehingga mereka senantiasa menjadi petani, bukan petani pengusaha.
Perkembangan zaman sangat memungkinkan petani untuk memanfaatan Infrastruktur ICT. Seorang petani tentu dapat mengakses informasi mengenai harga produk pertanian di pasar internasional dan harga di pasar domestik. Ia juga tidak perlu menjual produk pertaniannya ke pasar terdekat karena dengan ICT ia dapat saja mengkontak pasar-pasar mana yang sedang kekurangan produk pertanian. Lebih dari itu, petani tidak perlu lagi menjual hasil pertanian mereka kepada tengkulak karena dengan network economy mereka memiliki informasi yang selama ini tidak mereka miliki. Tentu hal ini memberikan dampak positif bagi petani-petani Indonesia, menjadikan mereka sebagai petani pengusaha. Efisiensi dalam waktu serta informasi yang tepat membuat produktivitas mereka dapat bertambah. Network Economy mampu menciptakan efisiensi jika setiap aktor mampu memanfaatkan infrastruktur ICT yang ada baik dari sisi regulator maupun pelaku pasar.
Pertanyaannya sekarang: apakah Indonesia telah mampu memanfaatkan Network Economy ini? Apakah ICT menjadi infrastruktur yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh stakeholder penggerak roda perekonomian yang ada di Indonesia? Tentu kita masih berusaha mengejar ketertinggalan. Penetrasi internet di Indonesia masihlah rendah bila dikomparasi dengan negara-negara Asia lainnya. Selain itu, infrastruktur ICT Indonesia juga belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Belum lagi mahalnya jasa ICT bagi masyarakat Indonesia. Meski demikian pemerintah melalui Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (DETIKNAS) diharapkan mampu melakukan revolusi dalam penetrasi internet sehingga semakin besar di tengah masyarakat Indonesia. Tentu penetrasi ini sangat bergantung kepada keseriusan berbagai stakeholder di Indonesia dalam membangun infrastruktur ICT yang merata di seluruh pelosok Indonesia. Setidaknya pemerintah tidak berdiam diri dalam menghadap era network economy. Sebab, petaruhannya menyangkut kesejahteraan dan masa depan seluruh bangsa.
Tags: akses, ekonomi, global, harga, internet, ITC, network, pasar, petani, telepon










