Pengawalan atas Rupiah Melonggar
OTORITAS moneter mengisyaratkan akan memperlonggar pengawalan terhadap apresiasi nilai tukar rupiah, seiring masih berlangsungnya tren arus modal masuk (capital inflow) ke Indonesia pada 2011. Penguatan kurs rupiah dinilai bakal berdampak positif terhadap pengendalian laju inflasi yang cenderung meningkat di tahun ini.
Ketua Tim Outlook Jangka Pendek dan Diseminasi Kebijakan Direktorat RisetEkonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI) Endy Dwi Tjah-yono mengatakan, BI tidak akan mematok level nilai tukar rupiah tertentu dalam menghadapi capital inflow.
“Capital inflow adalah salah satu risiko perekonomian Indonesia. BI akan menggunakan instrumen nilai tukar dibiarkan menguat (hadapi capital inflow),” kata Endy di Padalarang, Jawa Barat, akhir pekan lalu.
Menurutnya, derasnya capital inflow berdampak pada penguatan kurs rupiah sejak kuartal II 2009. Adapun sepanjang 2010, BI menjaga nilai tukar rupiah di level 9.000-an per dolar AS guna menjaga daya saing Indonesia tetap kuat. Terutama, daya saing produk ekspor.
“Namun, stabilisasi rupiah itu add cost (menambah biaya) karena (BI) harus menyerap capital inflow dan membuat cadangan devisa naik pesat,” katanya.
Cadangan devisa Indonesia melejit dari US$66,1 miliar per akhir 2009 ke US$96,2 miliar per akhir 2010. Salah satu penyebabnya, BI harus menyerap ekses likuiditas valas yang dipicu capital inflow.
Tanpa intervensi, kurs rupiah akan menguat tajam. Fluktuasi kurs rupiah akan menyulitkan pelaku usaha dalam menjalan-kan bisnis, terutama mereka yang berkecimpung dalam ekspor-impor.
Intervensi itu pun bukan tanpa biaya bagi BI. “Waktu beli (dolar AS) dulu Rp9.500 per dolar AS, sekarang kurs Rp9.000 per dolar AS, kita sudah rugi Rp500,” kata Endy.
Di sisi lain, saat BI menyerap valas, suku bunga valas yang didapat-rendah. Padahal, saat capital inflow masuk ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI), BI harus membayar bunga di kisaran 6%-6,75%.
Oleh karena itu, tahun ini BI tidak akan menjaga terus rupiah di level 9.000 per dolar AS. Jika terus dijaga, capital inflowjustru akan terus masuk karena imbal hasil yang menarik.
“Kalau (rupiah) dibiarkan apresiasi, itu justru bisa menjadi bumper untuk mengurangi capital inflmo,” katanya.
Perlunak inflasi
Endy menilai penguatan kurs rupiah ke depan hingga level Rp8.700 per dolar AS masih wajar. Secara fundamental, penguatan kurs dapat mencapai Rp8.500 per dolar AS jika tanpa intervensi. Adapun pekan lalu, kurs rupiah bergerak di kisaran 8.800-8.900 per dolar AS.
Ekonom senior Standard Chartered Fauzi Ichsan melihat tujuan BI membiarkan penguatan kurs adalah untuk meringankan tekanan inflasi. “Penguatan rupiah akan membuat harga barang impor turun. Ini ditujukan untuk meredam inflasi,” kata Fauzi.
Ia melihat penguatan kurs rupiah merupakan salah satu bagian dari strategi BI bersama pemerintah dalam menghadapi tekanan inflasi.
Sementara itu, langkah BImenaikkan BI rate dari 6,5% menjadi 6,75ft pada awal bulan ini ditujukan untuk meredam ekspektasi inflasi ke depan. Per Februari 2011, laju inflasi tahunan mencapai 7,02 J.
Lebih lanjut, Fauzi mengatakan kurs rupiah yang menguat akan menggerus aset BI dalam bentuk dolar AS. Kemudian neraca BI akan dibiarkan menjadi negatif. Menurutnya, hal itu lazim pada bank sentral di banyak negara karena lebih mengedepankan tujuan nasional untuk meredam inflasi daripada menyeimbangkan neracanya.
Sebelumnya, anggota Komisi XI DPR Kemal Stamboel mengatakan ongkos pengendalian moneter menjadi beban terbesar pengeluaran BI. Selain itu, juga ada biaya kerugian kurs akibat intervensi stabilisasi nilai tukar.
Biaya operasi moneter BI pun terus meningkat dari sekitar Rpl7 triliun pada 2005 menjadi Rp25 triliun pada 2009, dan diperkirakan mencapai Rp30 triliun pada 2010. (*/Ant/E-3)tupani@mediaindonesia.com










